ﷲ¸ ❀ (`•.¸¸ﷲ¸¸.♥ “Dunia ini penuh perhiasan dan perhiasan yang paling indah ialah wanita yang Sholehah.” ♥ *•.¸¸ﷲ¸'❀ *¸¸ﷲ

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Blog Diqie Michael Heart didedikasikan untuk umum. Bagi siapa saja tanpa terkecuali, yang ingin belajar tentang bacaan-bacaan doa, silakan dapat belajar bersama kami di Blog kami ini. Semua materi yang disajikan merupakan hasil dari pembelajaran kami. Kami mohon maaf jika terdapat tulisan (khususnya tulisan arabic) serta lafadz-lafadz arab yang dilatinkan jauh dari kesempurnaan.

Diqie Michael Heart

Anda dapat menyebarluaskan semua materi yang sudah tersaji disini, dengan catatan menyertakan sumber atau link yang menuju ke Blog Ini dan/atau link langsung menuju halaman yang bersangkutan

Diqie Michael Heart

Untuk penulisan latin (arab yang dilatinkan) juga masih jauh dari kesempurnaan. Karena pasti tentu berbeda ucapannya antara mempelajari langsung dengan tulisan arab dan tulisan latin. Maka dari itu, kami sangat merekomendasikan para pembaca untuk didampingi oleh kakak, teman, orang tua atau ustadz yang lebih pintar dalam mempelajari doa-doa islami, agar hasilnya lebih fashih dalam pengucapannya serta lebih afdhol

Diqie Michael Heart

Semua gambar ilustrasi yang ada di Blog Ini merupakan hasil pencarian dari google.com, yang kemudian di edit dengan ukuran panjang dan lebar yang kami sesuaikan dengan Blog Ini. Apabila gambar hasil karya Anda terdapat di blog ini, silakan Anda hubungi kami dan dengan senang hati kami akan meresponnya.

Diqie Michael Heart

Dalam penulisan bahasa arab, kami menyadari masih banyak ke kurangan. Hal ini dikarenakan sangat terbatasnya menu-menu yang tersaji di dalam program (Ms. Word) yang kami gunakan untuk menulis bahasa arab, sehingga masih banyak kekurangan. Misalnya, dalam penulisan fathah panjang (berdiri), sejauh ini saya belum bisa menerapkannya, sehingga saya lebih memilih tidak memberikan fathat. Contoh lafadz اَللهُ , tulisan tersebut benar. Namun apabila kami menulis lafadz اَللهُمَّ , maka secara otomatis tanda fathah dan tasydid di atas huruf "Lam" akan hilang. Begitu juga dengan beberapa kalimat arab lainnya.

Wednesday, April 4, 2012

Hidup dan Cinta

Indah nian hidup jika penuh cinta, semua kan berjalan teratur. Kita hidup juga karena cinta dan kasih sayang dari Allah. Kita dibesarkan dengan cinta kasih sayang dari orang tua kita. Menginjak usia dewasa, dikala udah dijadikan istri oleh pangeran yang kita cintai, maka kitapun juga kebagian cinta dari suami kita.

Hidup dengan suami tercinta. Hari2 penuh canda tawa, kemesraan, kehangatan dan penuh tanggung jawab. Karena sebagai seorang istri kita dituntut untuk melaksanakan aktivitas harian penuh tanggung jawab besar. Tak mudah peralihan dari hidup sebagai seorang gadis menuju kehidupan sebagai seorang istri. Banyak hal yang tadinya kita bisa lakukan sendiri sekarang menjadi butuh kerjasama dari suami. Tapi semua terasa menyenangkan, karena dipenuhi cinta suami.

Untuk mencapai puncak kebahagiaan tersebut, tak sedikit cewek yang harus bersusah payah menemukan calon pasangannya. Segala usaha harus dikerahkan untuk memperoleh kebahagiaan tersebut. Disamping sifat cewek yang suka tidak puas terhadap apa yang ia dapatkan, banyak juga yang merasa tidak puas jika harus diberikan kesempatan oleh orang lain dalam memilih pasangan yang ditawarkan oleh orang lain padanya.

Susah memang! Ketika kita udah suka, eh..si cowok malah ga suka ma kita. Ada juga yang cowok dah suka ma kita, tapi kitanya yang ga suka ma dia. Repooot! Itulah keajaiban mencari pasangan, indah, ngalir apa adanya, sangat menikmati bagi yang udah nemu, tinggal mengusahakan untuk mau memahami calon suami kita aja. Saling menyayangi, namun tak harus diperlihatkan sedemikian rupa, karena belum menikah.

Kehidupan setelah sendiri akan berdampak bagus, manakala keseharian kita selama hidup sendiri bagus; mempunyai akhlaqul karimah, istiqamah dijalan Allah, tidak menjalankan apa yang dilarang Allah, dan keadaan yang demikian akan dilanjutkan setelah menikah kelak.

Penantian panjang tak menyurutkan langkah untuk tetap bersabar atas ujian yang dijalani, yakni menunggu akad. Resah gelisah pasti selimuti seseorang yang bakal bina rumah tangga bersama calonnya. Harap dan cemas, setiap saat selalu berdoa, agar penantian yang panjang ini segera berakhir bahagia, dengan adanya akad nikah.

Ujian dan cobaan selama masa ta'aruf dan khitbahan, akan segera berbuah senyum kegembiraan manakala keduanya telah resmi menjadi suami sitri. Rasa bahagia yang tiada terkira. Allah tak kan membiarkan hambaNya berbuat maksiat, kecuali hamba tersebut yang tidak mengindahkan aturan Allah, naudzubillah.

Ujian sebelum dan sesudah menikah, semua kan terasa berat, namun jika masih sendiri, ujian ini terasa lebih berat. Disamping godaan dari teman2, juga karena banyaknya cewek atau cowok lain yang berusaha untuk dapatkan kita juga. Tinggal bagaimana kitanya melatih diri untuk dapat mencintai calon pasangan kita dengan serius, dan godaan tersebut tak kan hampiri kita.

Rasa jenuh memang kadang muncul, kapan nikahnya sih? Mungkin begitu, kata hati kita. Kita yang udah lama menunggu akad, tak kunjung datang pula. Yah! Harus terus sabar memang! Yang pasti pernikahan tersebut kan ‘jauh lebih dekat' dari hari kemaren.

Muncul keraguan, jika memang godaan dari cowok atau cewek lain kita ladeni, dan bahkan sempat larut dalam hari2 kita, meski sebentar. Namun, bagi yang berani bersumpah, bahwa calonnyalah yang ada di hati, yang amat ia sukai dan berharap kan jadi kekasihnya sepanjang hidup dan kehidupan di surga kelak, maka kekuatan cinta tersebut akan ditambahkan oleh Allah.

Bisa dirasakan teman, bagaimana rasa cemburu kita terhadap calon pasangan yang ditaksir cowok atau cewek lain, kan berbuah cinta mendalam pada calon pasangan. Kita akan senantiasa mendoakan dia, agar tidak tergoda oleh cewek atau cowok lain.

Kita yang bernyawa tidak akan rela jika calon kita diambil orang, lebih2 kelak jika udah resmi jadi suami atau istri kita.

Ujian lain adalah dari keluarga kita, saudara2 kita, teman2 kita yang udah kadung tau peristiwa besar yang terjadi pada kita. Sedangkan hari H pernikahan kita tidak ingin kita ungkap kemana2. Mereka akan bertanya terus menerus pada kita, kapan nikahnya mbak atau mas? Rasa jenuh, bosan, pada yang bertanya berkali2 juga akan muncul, jika kita tidak bisa mengatur urusan hati, maka kita udah down duluan atau bahkan sampai stress menghadapi hal ini. Maka, hendaknya ketika kita udah nemu seseorang, dah dikhitbah, RAHASIAKANLAH KHITBAH KITA. Tapi SEBARKANLAH PERNIKAHAN KITA. Jangan sampai ketika masih khitbah udah nyebar berita tentang kisah kasih kita, karena dampaknya ga mengenakkan hati. Boro2 kita tenang, namun rasa bosan yang akhirnya menemani hari2 kita, Karena tiap kali ada sms yang ada Cuma "kapan nikahnya? Jangan lupa undangannya lho!" atau kalau pas ketemu, pasti kata2 mereka yang kenal dengan kita, sedangkan diri mereka udah tau berita khitbahan kita, maka hal yang diucapkan pasti ga jauh beda ma yang dalam sms tadi.

Maunya kita tenang, tapi malah ga jadi, itu juga karena kesalahan kita yang udah nyebarin berita khitbahan kita.

Memang, heran juga! Kenapa mereka begitu semangat untuk mengetahui pernikahan kita. Padahal hal khitbah udah biasa ada. Entahlah, yang pasti kita punya banyak teman, saudara, keluarga besar kita yang begitu menyayangi kita. Mungkin karena rasa sayang mereka yang berlimpah, akhirnya perhatian mereka terhadap kita juga berlebih. Disamping rasa bosan hadapi pertanyaan mereka, kita harus bersyukur pada Allah, alhamdulillah banyak perhatian yang ngalir pada kita. Moga kata2 mereka, pertanyaan mereka, rasa igin tahu mereka merupakan doa, agar pernikahan kita disegerakan oleh Allah, amin.

Kuatkan hati dan pikiran untuk hadapi ujian dari Allah yang pasti kan mendera setiap kita yang beriman pada Allah. Hidup adalah ujian, agar kelak kita mudah dalam menjalani kehidupan akhirat kita, amin. Penantian panjang kita, kan berbuah senyum bahagia, kesempatan untuk meraih pahala yang besar kan segera tiba. Dengan terus beriman kepada Allah, dan mentaati suami kita kelak.
Share:

Tuesday, April 3, 2012

...Pernikahan Sekuffu...


DUDUK sama rendah, berdiri sama tinggi’, ‘Sama cantik sama padan’ dan `Bagai pinang dibelah dua”.


 Itulah kepelbagaian ungkapan yang sering benar diucapkan apabila hendak memuji kecantikan dan ketampanan sepasang pengantin baru. Luahan perasaan sebegini jelas membuktikan naluri kita sebagai manusia yang gemar kepada keindahan, dan menolak sesuatu yang tidak sepadan atau tidak secocok.


 Apatah lagi, perkahwinan merupakan ikatan perjanjian dua orang insan untuk berkongsi segalanya dalam menempuh kehidupan berumah tangga, yang mengharapkannya kekal sepanjang hayat.

 Lantaran itu, sebaiknya kedua-duanya setaraf dalam banyak hal supaya rumah tangga yang akan diharungi lebih mudah dilayari. Kesesuaian atau sefahaman dalam memilih suami mahupun isteri, merupakan asas dalam membina keluarga Muslim.

 Kesesuaian bukan sahaja dinilai dari aspek kedudukan, harta kekayaan dan pendidikan akan tetapi kesamaan atau sefahaman dalam agama turut diambil kira di dalam Islam.

 Firman Allah s.w.t. bermaksud: “Hai manusia, se-sungguhnya Kami ciptakan kamu daripada seorang lelaki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Al-Hujarat: 13)

 Penolong Profesor di Jabatan Usuluddin dan Perbandingan Agama, Fakulti Ilmu Wahyu dan Sains kemanusiaan, Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM) Gombak, Dr. Amilah Awang Abd. Rahman dalam hal ini menjelaskan, apabila kita membicarakan soal sekufu atau `kafaah’, kita tidak boleh melihat ia sebagai satu perkara yang terpisah daripada agama itu sendiri.

 Menjadi satu kepentingan, agar umat Islam melihatnya sebagai satu keadaan yang menyeluruh kerana Islam sentiasa memandang sesuatu perkara itu secara global. “Dalam isu kafaah ini, sebenarnya Islam mengutamakan kepentingan pembinaan keluarga itu sendiri, atau ia memandang jauh kerana keluarga di dalam Islam itu amat penting”.
 “Bahkan ada yang mengatakan, keluarga merupakan buah pinggang kepada masyarakat”.
 “Ini bermaksud, kalau keluarga itu baik, maka baiklah masyarakat. Begitu juga sekiranya keluarga itu pincang, maka pincanglah juga masyarakatnya,” kata Dr. Amilah sewaktu ditemui di pejabatnya.

 Hakikatnya terang Dr. Amilah lagi, keluarga memainkan peranan penting dalam agama Islam. Jadi apabila Islam menggalakkan sekufu, ini bermakna Islam melihat lebih jauh lagi mengenai peranan sesuatu keluarga itu. Ini kerana perbezaan yang terlalu banyak dan ketara di antara pasangan suami dengan isteri dalam pelbagai perkara, hanya akan menimbulkan berbagai-bagai masalah untuk meneruskan kehidupan berkeluarga yang akan dibina kelak. Bahkan sekiranya tiada sekufu antara kedua-duanya, maka isteri atau walinya berhak menuntut fasakh selepas perkahwinannya. (1)
Share:

...Cemburu & Rindu...

 

...
 Aq adalah hamba yang hina dan dina..
 Ada setitik darah manusia di diri ini yang ku bawa-bawa kemana-mana,
 Membuncahkan hawa dan nafsu tanpa memandang darah mu ya Rasulullah..
 Ana yakin ya rasulullah
 Engkau melihat keadaan q sekarang,
 Yang berpelukkan guling berebah di atas sajadah
 Tidak kuasa menahan rindu yang amat sangat,

 Ku teringat akan para sahabat" mu.
 Aq cemburu karna mereka berasal dari mu
 Dan mereka berdiri didepan,belakang,kanan,dan kiri mu ya rasulullh..
 Aq cemburu pada para ahli sufi yang sangat zuhud akan dunia yang hanya dapat memabukkan mereka..
 Mereka mewarisi sifat mu ya Rasulullh..
 Ya rasulullah lihat cucu mu ini sangat mencemburui orang" yang pernah kau temui
 Walau hanya mimpi...

 Kapan cucu mu ini bs melihat indahx senyuman mu?
 Kapankah cucu mu ini mendapatkan hangatx usapan mu..

 Lelah..ana lelah..
 Bila air mata rindu ini habis
 Ana rela digantikan dengan air mata darah
 Karna hati ini takkan pernah berhenti merindui mu ya rasulullah..
 Ana tulis rindu dan cemburu ana sebagai tanda hati telah bicara & ana tuliskan dalam tulisan..

 Hai..
 Hati yang keras hai hati yang penuh rasa kesombongan
 Mana kerasmu mana sombongmu..
 Ingatlah kau pemilik hati
 Engkau hanyalah sebutir debu yang sangat kecil..
 Yang hanya berharap melekat di jubah kakek mu Muhammad Saw..
 Ana merasa tidak pantas mendapatx..
 Ana tidak pantas..

 Duhai hati yang keras..
 Duhai hati yang sombong..
 Ingatkah engkau akan cintax kakekmu yang berharap kau bisa mewangikan islam dengan cara dakwah..
 Ingatkah engkau akan mimpi-mimpimu tentang wali-wali Allah..
 Yang mengharapkanmu untuk melanjutkan apa yang mereka jalankan dahulu..

 Ingtlah hati yang keras & hati yang sombong..
 Akhir darimu adalah tulang..
 Sebelum kau menjadi tulang..
 Luruskanlah jalanmu seperti huruf alief..
 Ya Allah tanamkan rasa cemburu ini agar rindu semakin menggebu tuk mencontoh orng" yang hamba rindui..
 Ini catatan kecil yang keluar dari hati yang keras & hati yang sombong yang telah letih...


 --------------------------
 Catatan kecil hati yang dihentak syahdu Syahdannya rindu .
Share:

..Renungan dari KasihSayang Se0rang Ibu...

***

"Bisa saya melihat bayi saya?" pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan.

Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga!
Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk.

Suatu hari, anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak berkata, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh."

Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, "Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?" Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.
Dan pada suatu hari, ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter.

Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka. Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia." kata sang ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat.
Ia menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya."
Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu."

Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini." Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu.

Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. "Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik sang ayah.
Share:

Thursday, March 29, 2012

Islam mengajarkan untuk bersyukur


Kata untuk bersyukur sekarang sedang mewabah, saat ini ada artis penyanyi wanita cantik yang identik dengan ucapannya “Alhamdulillah, yah”. Tapi tentunya syukur tidak hanya sekedar diucapkan di mulut saja, tapi juga diresapi dalam hati, dan diamalkan dalam perbuatan. Selain itu, hal yang tidak mudah adalah tetap bersyukur saat mendapat musibah. Misalnya kehilangan dompet yang ada uangnya, tetap bisa mengambil hikmah, dan bisa tetap bersyukur karena fisiknya tidak terluka saat kehilangan dompet. Wajar awalnya kaget bila mendapat musibah, tapi segera bisa segera mengontrol diri untuk mengambil hikmah dari musibah ini.
Manusia diciptakan mempunyai mata, telinga, dan hati agar bisa melihat, mendengar dan memahami akan tanda-tanda kekuasaan Allah. Manusia agar mencari rejeki yang halal dari karunia yang diberikan oleh Allah. Menyembahlah pada Allah, dan mintalah rezeki pada Allah, lalu syukurilah atas semua yang diterima. Manusia diperintahkan oleh Allah untuk selalu mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah, tetapi ternyata tidak banyak manusia yang bersyukur, itu karena janji Iblis akan menyesatkan manusia agar tidak bersyukur. Manusia beriman yang ikhlas tidak akan mudah tertipu oleh bisikan setan anak buah Iblis. Manusia yang beriman akan selalu berusaha bersyukur dalam keadaan apapun.
Syukur (شُكُوْر) adalah pujian pada Allah sebagai ungkapan terima kasih, dari hati, lisan dan perbuatan. Janji Allah adalah, bagi yang selalu bersyukur atas segala pemberian Allah akan ditambah nikmat hidup ini, dan bagi yang mengingkari nikmat Allah akan mendapat azab yang perih.
Semoga kita semua termasuk orang beriman yang selalu bersyukur akan karunia yang diberikan Allah, sehingga Allah akan memberikan nikmat lebih pada hidup kita…
Allah berfirman
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An Nahl : 78)
Allah berfirman
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya”. (QS. Al Araf : 16 -18)
Allah berfirman
Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyal karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (Al Ghaafir : 61)
Allah berfirman
Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (QS. An Nahl : 114)
Allah berfirman
Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan. (QS. Al ‘Ankabut : 17)
Allah berfirman
Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebahagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. (QS. Luqman : 31)
Allah berfirman
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim : 7)

Share:

Hikmah dibalik musibah (yang merupakan ujian hidup)


Status Facebook seorang teman kadang bisa membuat inspirasi tulisan. Misalnya status seperti ini “Hari yang kacau, makalah ilang, ini gak bener, yang itu gak bener, ya Allah, apa sih salahku sampai dikasih ujian kayak gini”. Aku sendiri kadang suka menulis hal yang mengagetkan aku sendiri setelah sudah tenang lalu dibaca lagi.
Sebetulnya musibah yang menimpa manusia adalah kesalahannya sendiri. Kita sering melakukan kesalahan tanpa kita menyadari, misalnya menyakiti hati orang lain secara langsung. Atau juga menjatuhkan orang di belakangnya atau ditambah-tambahin supaya seru.
Ada lagi bersikap sombong ingin dipuji oleh orang lain, padahal orang sombong ibadahnya tidak diterima oleh Allah. Dan masih banyak yang lain. Hanya saja karena kesibukan kita sendiri kita malas untuk intropeksi, menggampangkannya dengan beranggapan “Allah Maha Pengampun”. Allah akan mengampuni seseorang apabila yang bersangkutan sudah mengembalikan hak orang lain, atau minta maaf pada yang disakiti hatinya, bertaubat sungguh-sungguh dengan tidak mengulangi kesalahannya. Jadi yang beranggapan bahwa Allah Maha Pengampun itu semua kesalahan dengan mudah dimaafkan oleh Allah tidak sepenuhnya benar, mesti ada usaha intropeksi dengan sungguh-sungguh.
Orang yang sedang kena musibah apapun, tidak harus ada yang orang yang meninggal, supaya mengucapkan innalillah wa inna ilaihi roji’un (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah kami kembali). Orang beriman dan sabar akan diberi petunjuk oleh Allah untuk mengatasi masalahnya. Meminta pertolongan hanya kepada Allah, lalu Insya Allah akan ada kemudahan dibalik kesulitan.
Biasanya ujian yang merupakan musibah akan mudah menjadikan seseorang lebih taat beribadah. Tetapi bila diberi ujian keni’matan akan membuat seseorang berpaling dari Allah karena sibuk bersenang-senang.
Semoga kita semua bisa menjadi manusia beriman yang bisa selalu bersabar saat mendapat musibah dan bersyukur saat mendapat kemudahan…
Allah berfirman:
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. Asy Syuura : 30)
Allah berfirman:
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.
 (QS. Al Baqarah : 155-157)
Allah berfirman:
Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Ath Taghabun : 11)
Allah berfirman:
Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu,
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. 
(QS. Alam Nasyr : 1-8)
Allah berfirman:
Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa. (QS. Al Fushilat : 51)

Share:

Islam mengajarkan agar bertaubat secara benar


Kata dari “Taubat” dalam bahasa Arab berarti “kembali”. Dalam konteks Islam, Taubat adalah menjauhi apa yang Allah larang kemudian kembali melakukan apa yang Allah perintahkan.
Taubat itu ditujukan Allah, Allah akan mengembalikan kepada hamba-Nya dalam bentuk ampunan. Kembali kepada jiwa yang bersih seperti saat dilahirkan yang karena pengaruh lingkungan telah banyak dikotori sehingga menumpuk banyak dosa. Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam kitab tafsirnya: “artinya adalah, taubat yang sebenarnya dan sepenuh hati, akan menghapus keburukan-keburukan yang dilakukan sebelumnya, mengembalikan keaslian jiwa orang yang bertaubat, serta menghapus keburukan-keburukan yang dilakukannya.” Orang yang tidak mau bertaubat termasuk orang yang zalim, dan bila mau bertaubat sungguh-sungguh maka Allah akan mengganti keburukan akan menjadi kebajikan.
Taubat yang benar adalah dengan
  • penyesalan mendalam
  • menghentikan perbuatan dosa
  • bertekad kuat tidak mengulangi
Berkaitan dengan hubungan sesama manusia maka hendaknya melakukan
  • mengembalikan barang yang bukan haknya
  • meminta maaf pada orang yang telah disakiti hati
Apabila barang yang diambil telah diikhlaskan maka berarti tidak perlu mengembalikan lagi. Bila sekiranya menghubungi orang yang telah disakiti hati membuat masalah tambah sulit, bisa memohon ampun pada Allah juga mendoakan yang bersangkutan mendapat kebaikan serta ampunan Allah. Dengan sering bertaubat maka Allah akan mengganti keburukan kita menjadi kebaikan.
Banyak hal yang kita tidak sadari merupakan perbuatan dosa, oleh karena itu sering-seringlah bertaubat pada Allah dan menambah amal ibadah kita. Selalu belajar tentang ajaran Islam yang benar agar kita bisa meningkatkan keimanan dan ketakwaan pada Allah. Semoga kita termasuk golongan orang yang selalu bertaubat sehingga kita bisa meninggal dengan tenang, dan saat di akhirat mendapat tempat terbaik yaitu di surga…
Allah berfirman
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui.”
(QS Ali Imran : 135)
Allah berfirman
“Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)
Allah berfirman
“Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat setelah itu, dan memperbaiki ( dirinya) sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 119)

Share:

Fans Page

Support

Heartless Background